Tampilkan postingan dengan label anekdot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anekdot. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Januari 2009

Anekdot Seputar Emas


Anekdot emas 1
Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzili adalah seorang Sufi agung sekaligus ahli ilmu kimia. Suatu hari beliau memohon kepada Allah swt, agar diberi petunjuk bagaimana besi bisa jadi emas.
Aklhirnya mendapatkan Ilham dari Allah, agar membakar besi itu, dan setelah itu dikencingi.

Benar, apa yang terjadi, akhirnya besi itu berubah jadi emas. Tidak jelas, kenapa harus dikencingi dan apa kandungan kencing. Apa hubungan air kecing dengan benda-benda besi dan emas?

Akhirnya Syeikh Abul Hasan bermohon kepada Allah. “Ya Allah kenapa proses ini harus melalui najis?”

Lalu dijawab oleh Allah, swt, “Sesuatu yang kotor, prosesnya lewat jalan yang kotor pula…”.

Akhirnya emas itu dikencingi lagi, dan berubah jadi besi sebagaimana semua.

Emas adalah lambang kemewahan dan harta dunia. Dan dunia itu kotor, maka dilambangkan puila dengan proses najis secara kimiawi.

Anekdot emas 2
Ada seorang ahli khalwat di daerah Madura yang luar bisaa. Konon hanya 35 hari sekali keluar. Orang aneh ini, menurut penduduk di sana, pusarnya banyak sekali mengelilingi perutnya.

Yang menjadi masalah, banyak orang menunggu kapan orang tersebut keluar dari tempat khalwatnya. Bukannya orang-orang itu mohon didoakan, tetapi menunggu kapan sosok aneh ini membuang air besar.

Kadang penduduk sekitar sana, melihat kadang-kadang tidak melihat. Kadang sosok aneh ini buang air besar kadang tidak.

Ketika buang air besar mereka berebut mengambil tinjanya. Lho?
Sebab setiap yang keluar dari perutnya itu, bukan berupa tinja kuning seperti layaknya kebanyakan orang. Tetapi yang keluar adalah warna kuning emas, dan kenyataannya adalah emas.

Rupanya orang aneh ini pandai dan arif mendidik masyarakat sekitarnya melalui tinja. Bahwa sehebat-hebat harta dunia yang dilambangkan dengan emas, ternyata nilainya tak lebih dari tinja manusia. Wuiih!

Anekdot emas 3
Seorang ustadz di pesanren sedang menjelaskan tentang pandangan beberapa mazhab fiqih mengenai perhiasan emas yang dipakai oleh lelaki muslim.

“Menurut Imam Syafi’i seorang laki-laki muslim haram hukumnya memakai perhiasan emas. Namun boleh menurut Imam Maliki….”

Diskusi jadi panjang, ketika muncul pertanyaan bagaimana menurut mazhab syafi’i, lelaki yang menggunakan batu permata seperti berlian yang harganya lebih mahal dari emas, atau menggunakan batu zamrud yang nilainya ratusan juta? Apakah halal atau haram?

Sang Ustadz memberi argumen ngalor ngidul, yang dinilai cukup masuk akal.

Tiba-tiba, seorang gadis dalam arena itu penasaran bertanya?
“Kenapa sih Pak Ustadz, laki-laki tidak boleh menggunakan perhiasan emas, sedangkan kami boleh? Apakah Allah membuat perbedaan gender dalam kasus ini?”
“Ya, memang.…Tapi karena kaum lelaki sudah dipanggil Mas…Mas…Maaaaasss…untuk apa pakai emas segala?”

He he he…Nggak lucu ah!


Anekdot emas 4
Seorang Kyai Fadlun, dari Jawa Timur, seringkali diomelin oleh isterinya (Ibu Nyai), karena begitu banyak menolong ummat melalaui nasehat dan doa. Dan mereka yang ditolong oleh Kyai itu sukses. Biasanya ketika sukses sudah tidak kembali lagi.

“Pak Yai, kenapa orang-orang yang ditolong pada sukses, tapi kehidupan kita cuma begini-begini saja. Apa tidak punya doa atau apalah yang bisa membuat kita jadi sukses lebih hebat lagi, lebih kaya lagi.
Kenapa mesti orang lain teruuus?” protes Ibu Nyai pada sang Kyai.

Rupanya sang Kyai hanya tersenyum belaka.
“Coba kamu ambil gentheng di rumah kita yang ada dekat wuwungan pojok...” kata Kyai itu.

“ Sebelll akh… Masak minta fasilitas lebih malah disuruh naik gentheng. Nanti apa kata tetangga. Ibu Nyai kok naik-naik wuwungan, lagi nyari apaan tuh.…Nggak lucu akh…”
“Sudahlah..Ikuti saja. Katanya kamu mau minta harta emas berlian.”

Ibu Nyai akhirnya nekad naik gentheng. Dengan bersungut-sungut agar tidak dilihat tetangga, nekad juga akhirnya. Begitu ia dapatkan gentheng itu, ia bolak balik, sembari membatin, apa sih istemewanya gentheng tanah ini?

Setelah tuerun membawa gentheng, ia serahkan benda itu ke suaminya, dengan muka masem.

Genteng itu dipegang oleh Pak Kyai, lalu dibungkus kain. Kemudian Kyai itu memberikan kembali ke isterinya, agar dibuka. Ternyata begitu terjeutnya sang Bu Nyai, gentheng tanah tadi berubah jadi emas semua.

Ibu Nyai kaget bukan main. Dengan muka pucat ia tak bias bicara.

“Kamu pilih mana, nikmat-nikmat Allah disegerakan di dunia, atau nanti di akhirat?”

Ibu Nyai menyadari kesalahannya, dan menangis memohon ampun kepada Allah Ta’ala. Seketika genheng emas tadi berubah jadi gentheng tanah. Sejak saat itu, ia kapok protes pada suaminya.

Siapa yang Menggoda Syetan?
Syetan rupanya sangat bangga dengan tugasnya, menggoda manusia untuk berbuat jahat. Namun manusia yang satu ini rupanya juga penasaran. Kalau begitu, siapa yang menggoda syetan? katanya dalam hati.

Orang itu tak lain Mukidin, pertugas pentakmir masjid di dekat rumahnya. Dia sekarang makmur karena bisa korupsi di sana sini. Suatu ketika Mukidin bertanya pada seorang Kiai Sufi.
“Pak Kiai, syetan itu kan punya tugas menggoda manusia, lalau siapa yang menggoda syetan?” tanyanya agak sombong
“Ya kamu itu yang menggoda syetan!” kata Kiai seraya mengumbar tawa.

Mukidin pun ikut tertawa sampai-sampai perutnya yang buncit itu berguncang-guncang.
Suasana sejenak hening, dan Mukidin hanya tertunduk sambil merenungi dirinya. Benarkah dirinya bisa menggoda syetan, sedangkan syetan dari ujung rambut hingga kakinya pun belum ia kenal?
Setelah beberapa bulan ia menyadari akan tindakan buruknya selama ini, ia bertobat lalu mendatangi Kiai Sufi itu.
“Benar Pak Kiai, saya memang sering menggoda syetan,” katanya.
“Ya, kalau kamu tidak menggodanya, syetan tidak berani menggodamu,” kata Kiai itu yang disambut manggut-manggut Mukidin

Memanggil Iblis
Abu Sa’id al-Kharraz (w. 277 H/890 M) adalah Sufi terkenal dengan sejumlah karya monumentalnya. Ia berasal dari Baghdad dan berguru pada Dzun Nun al-Mishri dan an-Nabaji, juga berguru kepada Abu Ubaid al-Bishri dan Bishri Ibnu al-Harits.
Suatu hari, al-Kharraz bermimpi bertemu iblis. Iblis kelihatan menjauh darinya. Melihat iblis semakin menjauh lalu al-Kharraz pun memanggilnya.

“Hai Iblis! Kemarilah, apa sebenarnya maumu?,” katanya.
“Apa yang akan kulakukan padamu, sedangkan dirimu telah membuang dari dirimu sendiri, padahal yang kau buang itu bisa kugunakan untuk menipu manusia,” jawab sang Iblis.
“Apa itu?”
“Dunia!”
“Iblis kelihatan sangat segan dengan al-Kharraz, tapi pelan-pelan ia menoleh kepadanya.
“Tapi aku masih punya sesuatu berupa bisikan halus untukmu,” kata Iblis.
“Apa itu?”
“Bergaul dengan orang yang banyak bicaranya.” jawab Iblis.

Sabtu, 24 Januari 2009

Anekdot-anekdot Abul Qosim al Junaid

Abul Qosim al Junaid ibnu Muhammad al Khazzaz al Nihawandi (Junaid al Baghdadi) adalah anak dari seorang pedagang barang pecah belah dan keponakan dari Sarri as Saqathi. Ia merupakan pemimpin sebuah mazhab yang besar dan berpengaruh. Ia wafat di Baghdad pada tahun 298 H/910 M.

Menjaga Pikiran
Seorang laki-laki bangkit dan mulai mengemis di majelis junaid.
"Lelaki itu benar-benar sehat," piker junaid. "Sebenarnya ia mampu bekerja guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun mengapa ia mengemis, dan menghinakan dirinya sendiri?"
Malam itu, junaid bermimpi hidangan yang tertutup disuguhkan di hadapannya.
"Makanlah," ia ditawari.
Saat. ia membuka penutup wadah hidangan itu ia melihat lelaki pengemis tadi, terbaring mati di wadah itu.
"Aku tidak makan daging manusia," protesnya.
"Lalu, mengapa engkau berbuat demikian di masjid kemarin?." ia ditanya.

Junaid akhirnya sadar bahwa ia bersalah karena telah. menghujat dalam hatinya, dan ia telah ditegur karena pikiran buruknva itu.
Junaid mengisahkan, "Aku terjaga dalam ketakutan. Aku pun berwudu dan mendirikan salat dua rakaat. Kemudian aku pergi mencari pengemis itu. Aku melihatnya di tepi Sungai Tigris, sedang memunguti sisa sisa sayuran yang dicuci orang orang di sana, dan ia pun memakannya.

Lelaki itu mengangkat kepalanya, melihatku mendekatinya, dan menyapaku, 'Junaid, apakah engkau telah bertobat atas pikiran-pikiranmu mengenaiku?'
'Ya, aku telah bertobat,' jawabku.
'Kalau begitu, pergilah. 'Dialah Yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya.' Kali ini, jagalah pikiran-pikiranmu.'"

Tabib yang Sebenarnya
Suatu kali junaid menderita sakit mata. la pun memanggil seorang tabib. "Jika matamu terasa berdenyut denyut, jangan biarkan matamu itu terkena air," nasihat sang tabib. Saat sang tabib telah pergi, junaid berwudu, salat, kemudian pergi tidur. Ketika ia bangun matanya telah sembuh. ia mendengar sebuah suara berkata, "junaid mengabaikan matanya demi meraih keridhaan Kami. Jika demi tujuan yang sama, ia memohon ampunan bagi para Penghuni neraka, niscaya permohonannya itu akanKami kabulkan."

Di jalan, tak berapa lama kemudian, sang tabib memanggil junaid dan melihat. bahwa mata junaid telah sembuh.
"Apa yang telah engkau lakukan?" tanya sang tabib.
"Aku berwudu untuk salat," jawab junaid.
Seketika itu pula sang tabib, yang beragama Kristen, mengucapkan dua kalimat syahadat.

"Ini adalah penyembuhan Sang Pencipta, bukan makhluk," komentar tabib tersebut.
"junaid, matakulah yang sakit, bukan matamu. kaulah tabib yang sebenarnva, bukan aku."

Ingin bertemu iblis
Junaid mengisahkan, "Suatu kali, aku berhasrat untuk melihat Iblis. Aku berdiri di depan pintu masjid. Aku melihat seorang lelaki tua mendekat dari kejauhan. Saat aku memandangnya, kengerian merasuki diriku.
'Siapakah Anda?' tanyaku. 'Yang engkau ingin temui,' jawabnya.
'Sang terkutuk,' pekikku. 'Apa yang membuatmu tidak mau sujud kepada Adam?'
lblis menjawab, 'Bagainana menurutmu, junaid, apakah aku harus,menyembah selain Nya?'"

Junaid mengatakan bahwa ia merasa bingung setelah mendengar perkataan Iblis ini. Kemudian ia melanjutkan, "Sebuah suara berkata. padaku dari relung hatiku, 'katakanlah (pada Iblis), 'Engkau pembohong! jika engkaa benar-benar harnba Allah yang sejati, engkau pasti rnenuruti perintah Nya. Engkau tidak akan pernah mengabaikan nya dan bermain main dengan penyangkalan.''"

Saat Iblis mendengar kata kata ini, ia pun memekik dengan keras, "Demi Allah, junaid. Engkau telah menghancurkanku!" Kemudian ia pun lenyap.

Anekdot-anekdot Ahmad ibn Khadhruya

Anekdot-anekdot Ahmad ibn Khadhruya
Abu Hamid Ahmad ibnu Khadhruya al-Balkhi adalah saorang warga terhormat kota Balkh. Istrinya adalah seorang wanita soleh, putri dari gubernur kota itu. Ia mengunjungi Nisyabur dan meninggal dunia pada tahun 204 H/864 M dalam usia 95 tahun.

Mencari pekerjaan
Suatu kali, scorang lelaki datang menemui Ahmad ibnu Khadhruya dan berkata, "Aku sakit dan miskin. Bimbinglah aku ke jalan yang dapat menghantarkanku keluar dari cobaan ini."

"Tuliskanlah jenis jenis pekejaan yang ada masing-masing pada secarik kertas," jawab Ahmad. " Taruh potongan-potongan kertas itu dalam sebuah kantung, dan berikan padaku."

Lelaki itu pun menuliskan semua jenis pekerjaan dan membawa potongan potongan kertas itu kepada Ahmad. Ahmad memasukkan tangannya ke kantung dan mengambil secarik kertas. Di kertas itu tertulis: pencuri.

"Engkau harus menjadi pencuri," kata Ahmad kepada lelaki itu.

Lelaki itu terkejut dan terheran-heran mendengar ucapan Ahmad. Kemudian ia bangkit dan pergi menemui sekawanan penyamun.

"Aku memimpikan pekerjaan ini," katanya kepada mereka. "Bagaimana aku melakukannya?"

"Hanya ada satu aturan dalam pekerjaan ini," kata mereka kepadanya. "Engkau harus melakukan apa pun yang kami perintahkan."

"Aku akan melakukan apa pun yang kalian perintahkan," katanya meyakinkan mereka.

Lelaki itu tinggal bersama para penyamun selama beberapa hari. Lain suatu hari, sebuah kafilah melintas. Para penyamun itu mencegatnya. Mereka menyerahkan salah seorang anggota kafilah itu - seorang saudagar yang kaya raya - kepada sang anggota baru.

"Gorok lehernya," Perintah mereka.

Lelaki itu ragu. Ia berkata dalam hati, "Raja penyamun ini telah membunuh begitu banyak orang. Lebih baik aku membunuhnya daripada membunuh saudagar ini."

"Jika engkau menginginkan pekerjaan ini, engkau harus melakukan apa yang kami perintahkan," tukas sang raja penyamun. "Kalau tidak, engkau harus pergi dan carilah pekerjaan lain!"

Lelaki itu berkata, "Ya, aku memang harus menjalankan perintah. Tapi perintah Allah, bukan perintah kalian!"

Kemudian ia menghunus pedangnya, membiarkan saudagar itu pergi, dan menebas kepala sang raja penyamun.

Melihat kejadian ini, para penyamun yang lain melarikan diri. Barang-barang milik kafilah itu tetap utuh, dan jiwa si saudagar kaya tadi selamat. Ia memberikan banyak emas dan perak kepada lelaki itu agar bisa hidup mandiri.

***

Salat Seorang Pencuri
Seorang pencuri membobol rumah ahmad ibnu Khadhruya. Ia mencari kesana kemari, namun tidak dapat menemukan apa-apa. Saat ia hendak pergi meninggalkan rumah Ahmad, ahmad memanggilnya, " wahai anak muda , ambilah ember itu dan ciduklah air dari sumur. Berwudulah dan dirikanlah salat. Jika aku mendapat sesuatu, aku akan memberikanya padamu, agar engkau tidak meninggalkan rumahku ini dengan tangan kosong."

Pencuri itu melakukan apa yang diperintahkan Ahmad. Ketika itu hari telah terang, seorang lelaki terhormat dating dan memberikan uang seratus dinar kepada sang syekh (Ahmad).

" ambilah uang ini sebagai imbalan bagi malammu yang engkau lewatkan dengan salat," kata Ahmad pada si pencuri.
Si pencuri kontan gemetaran seluruh badan. Ia larut dalam tangis.

"Aku telah salah jalan," pekiknya. "Baru semalamAku bekerja untuk Allah, dan Dia telah membalasku demikian besar."

Pencuri itu pun akhirnya bertobat, kembali kepada Allah. Ia menolak uang dinar yang diberikan Ahmad, dan kemudian menjadi salah seorang murid Ahmad.

***

Tujuh Puluh Lilin
Suatu kali, seorang darwis bertamu ke rumah Ahmad dan diterima dengan hangat. Ahmad menyalakan tujuh puluh buah lilin.

"Ini tidak menyenangkanku," kata si darwis.
"Sibuk dengan hal hal remeh tidak ada kaitannya dengan sufisme."
"Kalau begitu, pergilah," kata Ahmad, "dan padamkan setiap lilin yang aku nyalakan bukan karena Allah."

Sepanjang malam, si darwis menyiramkan air menaburkan tanah, namun tak satu lilin pun berhasil ia padamkan.

"Mengapa engkau begitu terkejut?" kata Ahmad pada darwis itu keesokan paginya. "Ikutlah denganku, dan engkau akan melihat hal hal yang memang patut membuat takjub."

Mereka pun pergi dan tiba di depan pintu sebuah gereja. Saat para gerejawan Kristen melihat Ahmad bersama temannya, kepala gerejawan mengundang mereka untuk masuk. Ia menyajikan makanan di meja dan mempersilakan Ahmad untuk makan.

"Para sahabat tidak makan bersama para musuh," ujar Ahmad dengan hormat.
"Tawarkan Islam kepada kami," kata sang kepala gerejawan.

Maka, Ahmad pun menawarkan Islam kepada mereka. Tujuh puluh gerejawan, akhirnya menerima Islam.

Malam itu, Ahmad bermimpi. Dalam mimpinya itu, Allah berbicara padanya, "Ahmad, engkau menyalakan tujuh puluh lilin untukku. Kini Aku telah menyalakan untukmu tujuh puluh hati dengun cahaya iman. "

Rabu, 21 Januari 2009

Apa Ada Kentut Yang Islami ?



Sebuah seminar kaum cendekiawan Muslim sedang berlangsung, membahas Islamisasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
“Kita ini sudah waktunya meninggalkan Iptek dari Barat, karena dalam Al-Qur’an sudah lengkap dan sempurna tentang ayat-ayat Iptek,” kata seorang professor dari Gajah Mada University sembari membacakan sejumlah ayat Al-Qur’an tentang Iptek.

Para peserta sangat terkesima dengan paparan Islamisasi yang dicanangkannya, yang dianggapnya sebagai upaya menuju kebangkitan Islam pada 14 Hijriyah ini.
Di tengah-tengah kesima peserta, seorang peserta interupsi.
“Bapak ini ternyata orang munafik!!!...” katanya cukup keras.
Seluruh isi ruangan jadi gemuruh dan gaduh.
“Alasan anda mengatakan bapak professor ini munafik apa?” Tanya moderator.

“Kalau anda meminta ummat Islam meninggalkan Iptek dari Barat dan seluruh konsep Iptek yang datang dari Barat, karena yang serba Barat anda anggap ilmunya kafir, kenapa anda masih menggunakan mikrofon, listrik, otomotif dan kendaraan serta computer dari Barat?”
Suasana jadi gaduh dan gelagapan.

“Tapi kan di Al-Qur’an sudah jelas semuanya. Semuanya pun harus berdasarkan Al-Qur’an…” jawab sang professor Islamisasi tadi.
“Nah, sekarang bapak tidak hanya munafik, tapi telah dzolim…” kata sang peserta….
Suasana tambah riuh, bahkan seperti muncul sambutan tepuk tangan yang bersorak.
“Sebentar…sebentar….Maksudnya bagaimana anda ini kok menuding professor ini munafik dan dzolim…” Tanya moderator kembali.
“Bagaimana tidak munafik, wong sudah jelas minta meninggalkan Iptek Barat, malah anda memakai. Kenapa kita nggak adakan seminar ini di tengah hutan atau di tengah lapangan tanpa mikrofon, kita jalan kaki, atau pakai onta dan kuda saja.”
“Anda sebut dzolim?”

“Ya, karena pak professor tidak faham tafsir Al-Qur’an, tidak memahami kedudukan ayat suci Al-Qur’an, lalu meletakkan ayat Al-Qur’an bukan pada tempatnya. Nah, meletakkan kedudukan ayat suci bukan pada tempat pandangan, itu kan dzolim namanya…”
Lalu sang moderator menyilakan kepada professor untuk membela diri.
“Begini, pokoknya Al-Qur’an itu kebenaran mutlak…pokoknya…pokoknya…pokoknya…” kata professor itu, sembari mempertahankan “pokoknya” yang dihitung oleh peserta tadi sampai hampir 30-an kata “pokoknya…”

“Maaf professor, sekarang gelar anda bertambah. Bukan hanya munafik, dzolim, tapi juga bodoh…”
“Apa alasan anda memberi gelar bodoh pada professor itu?” Tanya moderator.

“Karena kebodohan itu selalu bersembunyi dibalik “pokoknya”. Di dalam “pokoknya” pasti ada hawa nafsu dan emosi. Dalam emosi dan hawa nafsu ada kebodohan…Nanti lama-lama Pak Professor ini membuat paradigma agar kalau kita kentut pun harus Islami. Saya nanti akan muncul pertanyaan, bagaimana bau kentut yang Islami, bunyi kentutnya bagaimana, strateginya kayak apa, dan dalilnya di surat apa..Lalu apa kita akan bikin seminar dengan judul Islamisasi kentut?. ”
Suasana jadi gerrrr. Seminar pun jadi bubar dan bubrah.